08.14.08
Posted in opini at 12:44 pm by aulia
dir-ga-ha-yu a berumur panjang (biasanya ditujukan kpd negara atau organisasi yg sedang memperingati hari jadinya): – Republik Indonesia, panjang umur Republik Indonesia (Dikutip dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/)
Belakangan dalam menyambut HUT kemerdekaan RI ke 63 banyak kita jumpai spanduk atau tulisan “Dirgahayu Republik Indonesia” atau “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia” atau sejenisnya. Merujuk pada arti kata dirgahayu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya kutip diawal, orang yang menulis “Dirgahayu Republik Indonesia” saya anggap mendoakan agar Republik Indonesia panjang umur, sedangkan yang menulis “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia” berarti mendoakan agar Kemerdekaan Republik Indonesia panjang umur. Berbagai tulisan di media cetak maupun online membahas mengenai mana yang benar antara dua kalimat itu secara kaidah bahasa. Biarlah mereka yang ahli dibidang itu yang membahas masalah tersebut. Di tulisan ini saya ingin membandingkan umur negara kita sekarang ini dengan umur negara-negara yang pernah berjaya di dunia.
Berikut adalah umur beberapa negara yang pernah berjaya di dunia dari berbagai sumber:
- Roman Republic & Roman Empire : 984 tahun
- Mongol Empire : 162 tahun
- Umayyad Dynasty : 90 tahun
- Abbasid Dynasty : 508 tahun
- Majapahit : 207 tahun
- Sriwijaya : kurang lebih 1100 tahun
- Soviet Union : 69 tahun
Umur negara kita yang “baru” 63 tahun ini ternyata relatif masih muda. Bahkan kalau boleh dibilang belum mencapai masa kejayaannya. Negara-negara yang saya sebutkan diatas pernah mengalami masa kejayaan, hingga ketika masa kejayaannya mungkin tidak ada orang yang akan mengira bahwa negara mereka akan pecah atau bahkan musnah. Siapa yang menyangka ketika Mongol berhasil menguasai eropa timur hingga jepang dan cina, mereka akan menjadi negara yang relatif terpuruk sekarang ini. Dulu ketika Romawi mencapai wilayah terluasnya dibawah Kaisar Trajan, siapa yang mengira bahwa kerajaan mereka akan runtuh. Kemudian bagaimana dengan Indonesia 100 tahun kedepan?
Indonesia 100 tahun kedepan belum tentu masih ada. Di pundak rakyatnya lah eksistensi Indonesia digantungkan.
Selamat HUT Kemerdekaan RI ke 63.
Permalink
08.11.08
Posted in religi, opini at 9:22 am by aulia
It’s my opinion. Feel free to criticize..
Setiap awal ramadhan, umat islam selalu dicuri perhatiannya oleh penetapan tanggal 1 Ramadhan dan nanti penetapan tanggal 1 Syawal. Muhamadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1429 H jatuh pada 1 September 2008 dan 1 Syawal 1429 H jatuh pada 1 Oktober 2008. Sementara pemerintah baru akan menetapkan 1 Ramadhan 1429 H pada sidang itsbat tanggal 31 Agustus 2008.
Saya tidak akan membahas mengenai penetapan tanggal dan metodenya karena saya bukan ahlinya. Hanya saya tergelitik untuk menanyakan akankah kalender Hijri bisa menyamai atau bahkan mengungguli popularitas kalender Gregorian yang selama ini dipakai secara resmi di negara kita. Saya teringat ucapan seseorang (saya lupa siapa orangnya) yang mengatakan bahwa sulit menjadikan kalender hijri sebagai kalender resmi dan utama negara kita apalagi kaitannya dengan dunia bisnis. Hal ini disebabkan sering terjadi perbedaan penetapan tanggal. Ketidakpastian mengenai tanggal ini akibatnya bisa fatal. Misalnya dalam hal tenggat waktu pembayaran. Atau perjanjian-perjanjian yang kaitannya dengan tanggal.
Menurut saya alasan itu cukup masuk akal. Lantas bagaimana dulu penerapan kalender hijri di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat? Ada yang ingin melengkapi dan mengungkapkan pendapat?
Permalink
08.04.08
Posted in free, opini, buku at 8:09 am by aulia
Bumi Manusia adalah Buku Pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini adalah salah satu koleksi penulis. Koleksi penulis lainnya disini.
Roman Tetralogi Buru diawali dengan penuturan Minke yang mengambil peran utama, tentang kehidupannya di akhir abad 19. Minke, seorang priyayi Jawa yang berhasil menjadi siswa HBS, mencoba melepasan diri dari kejawaannya, dengan memandang Eropa sebagai acuan budaya dan ilmu pengetahuan. Hidup dengan diskriminasi yang sangat terhadap statusnya yang pribumi di antara orang-orang Indo maupun Totok (Eropa asli), Minke yang mengagungkan semboyan revolusi Perancis, mencoba menyuarakan pendapatnya melalui media tulis. Menggunakan nama pena Max Tollenaar, terinspirasi dari sang panutan Edward Douwes Dekker, Minke berhasil merebut perhatian para pejabat, kalangan terpelajar baik Totok maupun Indo. “Sayang, hanya pribumi…” adalah kalimat yang selalu dihadapinya saat berbicara dengan orang-orang yang berpandangan sempit, dan selalu dapat ditangkisnya pula dengan menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya yang melebihi mereka.
Minke yang berjiwa Eropa, merasa menemukan ‘guru’nya saat bertemu Nyai Ontosoroh, wanita luar biasa, yang meskipun pribumi namun pribadi dan kecerdasannya melebihi wanita Eropa. Di sisi lain, Minke semakin ingin bebas dari segala aturan dalam keluarga Jawa-nya, emoh mengorbankan kebebasannya sebagai manusia yang memiliki harga diri dan hak untuk bebas berkembang. Kisah percintaannya dengan Annelies Mellema, Indo yang merasa pribumi tulen, putri Nyai Ontosoroh, membawanya menghadapi masalah pelik bertubi-tubi, menjajal kemampuan bertahannya menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan yang diterimanya sebagai pribumi. Dalam roman ini, Minke, seorang priyayi, pribumi, belajar, dari Eropa yang menjadi kiblatnya, dari kehebatan seorang nyai, dari kebijaksanaan dan kerendah hatian Jean Marais –sahabat Perancisnya-, dari pergaulannya dengan orang Indo dan Totok, baik yang sejalan maupun memusuhinya.
Tokoh Minke digambarkan sebagai pemuda yang benar-benar berjiwa muda, masih berapi-api dan selalu ingin mencari kebebasan, menyuarakan apa yang menurutnya benar, menurutnya patut dipertahankan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di satu sisi memang inilah karakter Minke yang kuat, seorang pribumi terpelajar yang lebih daripada Eropa. Namun dapat dilihat juga Minke sebagai orang yang egosentris, di mana dia hanya melihat kepentingannya, mengangkat apa yang jadi masalah dan tuntutannya saja, dan tidak melihat apa yang terjadi pada rakyat di sekitarnya, bangsanya sendiri. Di sinilah menariknya perkembangan pribadi Minke, yang dilanjutkan pada roman kedua, Anak Semua Bangsa.
Permalink
07.28.08
Posted in free, opini at 1:41 pm by aulia
Hari gini masih kayak gini?? Apa kata dunia??
Mau daftar untuk bayar aja kok susah…
Permalink
06.06.08
Posted in free at 11:18 am by aulia
Menyambut perjalanan akhir V yang Insya Allah dilaksanakan 21-22 Juni 2008 di Bandung dengan rute kemungkinan besar ke Gunung Burangrang, berikut sedikit cuplikan foto perjalanan-perjalanan sebelumnya…
klik disini
Permalink
12.12.07
Posted in Uncategorized at 11:07 am by aulia
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…
Telah meninggal dunia Ibu Sri Purwanti, dosen Teknik Informatika ITB pada hari senin 10 Desember 2007 kemarin, dan telah dimakamkan Selasa kemarin. Beliau meninggal setelah cukup lama menderita kanker. Bu Wanti pernah mengajar saya di kuliah Alpro, Strukdat, dan AI. Beliau juga sempat menjadi penguji proposal dan seminar tugas akhir saya. Sebenarnya beliau berniat menjadi penguji saya hingga akhir, namun karena sakit, penguji untuk prasidang dan sidang digantikan oleh Bu Ulfa. Di awal kuliah, saya melihat Bu Wanti sebagai seorang yang sangat tegas. Semakin lama saya kuliah di Informatika, saya semakin mengenal Bu Wanti sebagai orang yang sangat ramah dan perhatian.
Yang saya sangat sesalkan dari peristiwa ini adalah terlambatnya saya mengetahui kabar tersebut. Padahal rumah beliau tidak begitu jauh dari kontrakan saya. Senin sore saya sempat mendengar berita lelayu yang diumumkan di sebuah masjid di Cigadung, tapi saya tidak begitu jelas mendengar namanya. Selasa saya ke kampus tapi listrik mati jadi tidak bisa cek email, dan baru tahu kabar itu pagi ini.
Semoga amal beliau diterima di sisi Allah SWT, semoga ilmu yang kita terima dari beliau mendatangkan kebaikan yang tidak putus sampai akhir zaman bagi beliau. Semoga dimudahkan segala urusan beliau di alam kubur maupun di hari akhir nanti.
Selamat jalan guruku Ibu Sri Purwanti.
Permalink
11.27.07
Posted in free, opini at 11:59 am by aulia
Hands, bentuk jamak dari hand. Kalau di bahasa Indonesia artinya tangan ya.. Kalau hands diartikan tangan-tangan aneh juga. Tangan itu dah sepaket, ya kanan ya kiri, kecuali kalo dispesifikkan jadi tangan kanan atau tangan kiri..
Kenapa dengan tangan? Secara sadar atau tidak, tangan, sudah sangat banyak membantu kita dalam kehidupan, entah dari mulai hal yang besar seperti mengerjakan suatu rancangan proyek yang rumit atau sampai hal yang kecil seperti sekedar ngucek-ngucek mata atau ngupil, hehe..
Tangan merupakan sarana kita untuk mewujudkan apa yang ada di otak dan pikiran kita. Jaras-jaras saraf motorik ke tangan, yang jalan dari otak terus lewat plexus brachialis (yang lumayan susah buat dihafal), menjalankan fungsi tangan yang tadi. Tangan kita juga bukan hanya jadi sarana untuk mentransfer dari dalam ke luar, tapi juga dari luar ke dalam. Jadi ga cuma punya fungsi motorik, tapi juga sensorik. Reseptor di kulit tangan menerima dan saraf menghantarkan impuls dari luar. Istilah mudahnya ya, ga jauh-jauh dari kalimat yang sering kita dengar, tangan itu fungsinya untuk : memberi dan menerima.
Hmm, kalau dipikir-pikir, untuk suatu hal yang physically terlihat, mudah untuk mengetahui fungsi tangan kita. Tapi untuk suatu hal yang tidak terlihat wujudnya, susah ya, dan mungkin kita nggak sadar kalau tangan kita dah begitu berjasa.
His name was Yusuf, an extraordinary boy. Hehe, jangan kaget, ini bukan flight of ideas, tapi cuma awalan buat paragraf baru yang topiknya masih nyangkut2 di atas kok. Yusuf anak yang ceria, ya selayaknya anak seumurnya yang lagi seneng2nya maen dan berteman. Tapi sebagai anak umur 10 tahun, Yusuf nggak sekolah di SD biasa seperti anak-anak lain, Yusuf is one of the special ones, dia sekolah di sekolah luar biasa. Being a Down’s syndrome child, dia memang punya banyak keterbatasan dalam aktifitasnya, terutama fungsi kognitif. Tapi ternyata kalau kita mau mengenal lebih jauh anak-anak seperti Yusuf, kita mungkin baru sadar, kalau tangan kita itu punya kemampuan yang luar biasa..
Kenapa luar biasa? Mungkin tangan Yusuf juga tidak sesempurna tangan lain untuk melakukan berbagai pekerjaan. Tapi tangan itulah yang dah menghantarkan semua perasaannya, kasih sayang, kehangatan, kejujuran, dan ketulusan seorang anak kecil, kepada sesamanya. Tangan Yusuf sangat terbuka, menggenggam tangan orang yang mengajaknya bicara, yang dengan itu, jelas secara tidak disadari, dah memberikan kesan bagi lawan bicaranya. Ya maaf bagi orang dengan kadar serotonin yang tidak mencukupi alias perasaannya tumpul, mungkin jabatan tangan itu cuma sekedar lewat saja. Jika dibayangkan secara susah, sentuhan tangan Yusuf bisa membuka reseptor-reseptor di otak yang mempengaruhi afek dan perasaan kita..
Trus kenapa dengan tangan kita? Kenapa tangan kita kadang susah untuk memberi? Setelah saya berpikir dan merenung, wuuhh.. betapa kadang jauhnya saya (mungkin kita semua kali ya..) dari yang namanya mengungkapkan ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang dari hati. Masa-masa innocent yang sudah terlewati, dan mungkin dari berbagai perjalanan hidup yang sudah dijalani, membuat kita sulit menjadikan tangan ini, suatu sarana pengungkapan perasaan.. Bukan cuma kepada orang-orang tersayang lho, tapi juga orang lain, bahkan yang baru saja ketemu. Yah, semoga saja masih banyak Yusuf lainnya yang selalu bisa mengajarkan, bahwa tangan kita ini, haruslah memberi, dari dalam hati…
Give me your hand, i will show you sincerity, honesty, and love..
:: dya :: 21 november 2007 ::
(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM dan sedang menjalani pendidikan Koasisten)
Permalink
11.26.07
Posted in free, opini at 3:50 pm by aulia
Iya, manusia, yang menurut Maslow punya basic needs yang harus dipenuhi : biologic; sense of belonging; love and to be loved; safe and security; reward and to be rewarded; actualization, punya berbagai cerita hidup yang tidak akan habis, dan dalam cerita hidup itu, ada berbagai sisi yang bisa dipelajari. Karena itu, seorang manusia, as a patient, harus dipandang secara holistik. Dan dengan belajar dari pasien, bukan hanya masalah medisnya yang menarik, tapi juga masalahnya sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang selama tujuh bulan lebih ini saya lihat, tidak ada yang tidak menarik dari seorang pasien, yang posisinya bagi saya adalah guru. Dari mulai masalah kesehatan yang simpel seperti kutil (believe me, a verruca is not always that simple..), hingga penyakit kronis yang sudah punya berbagai ‘teman’ komplikasi, seperti hipertensi-gagal jantung-gagal ginjal-stroke. Semuanya menarik. Atau kalau mau lebih jeli, ya dengan memandangnya secara holistik, ya dia sebagai makhluk sosial, ya dia sebagai anggota keluarga, ya dia sebagai profesinya, dan seterusnya. Kadang masalah yang ada seperti iceberg phenomen, yang keliatan dari luar hanya sedikit saja. Tapi kalau bisa digali, terungkaplah semuanya. Ungkapan “Saya sakit..” tidak selalu bisa dijadikan acuan, tapi bagaimana kesakitan itu diungkapkan dengan bahasa tubuh dan interaksinya dengan orang lain. Mungkin di situ menariknya psikiatri ya. Instruktur saya bilang, kenapa dia memilih untuk belajar jadi psikiater, yaitu karena dia bisa belajar setiap hari. Bukan hanya dari textbook atau teori2 yang ada, tapi dari mengamati dan mempelajari orang-orang di sekitar, bahkan dengan berjalan-jalan di mall (it’s such an easy thing for her to recognize two persons as friends or couple), seperti halnya dengan mengamati teman sendiri yang sering berkedip misalnya, pun bisa jadi pelajaran yang menarik. Percaya? Hmmm.. an interesting start to learn psychiatry, mempelajari manusia..
:: dya :: bangsal jiwa, midnovember 2007 ::
(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang sekarang sedang menjalani pendidikan Koasisten. )
Permalink
11.21.07
Posted in free, opini at 11:14 am by aulia
Tanggal 17 November 2007 kemarin diadakan pemilu untuk memilih presiden IA ITB yang baru menggantikan Laksamana Sukardi. Mengenai calon-calonnya tidak perlu saya ceritakan karena di blog yang lain sudah banyak yang membahas hal tersebut. Saya hanya ingin bercerita pengalaman saya mengikuti pemilu ini dan beberapa hal aneh yang terjadi.
Saya baru diwisuda 27 Oktober 2007 yang lalu, jadi saya tergolong alumni sangat muda. Sebelum hari pencoblosan, saya pernah mengisi form pendaftaran pemilih di depan masjid Salman. H-1 saya menerima SMS yang mengingatkan saya bahwa esok hari adalah hari pencoblosan. SMS itu juga menyatakan bagi yang pernah mendaftar diharapkan mengambil bukti pendaftaran di stand Hatta Rajasa (salah satu calon). Siang sekitar jam 1 saya datang ke kampus bermaksud menggunakan hak pilih saya. Setelah saya parkir di SR, saya menuju stand Hatta Rajasa untuk mengambil tanda bukti pendaftaran. Tapi disana ternyata nama saya tidak ada dalam daftar pemilih yang telah mendaftar. Oleh penjaga stand disarankan untuk mengisi kembali form pendaftaran. Sesuai saran saya isi kembali form pendaftaran dan mengisi daftar hadir. Setelah itu saya mendapatkan pin dan kaos Hatta Rajasa. Setelah itu saya menuju boulevard untuk menukarkan form pendaftaran dengan tanda peserta Kongres yang nantinya ditukarkan lagi dengan surat suara.
Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan apapun. Setelah mencoblos, jari kelingking kiri saya dicelup tinta. Sepintas tidak ada masalah, namun ada beberapa keanehan sebagai berikut:
- Pada saat saya mendaftar, tidak ada verifikasi apakah saya benar-benar alumni ITB. Verifikasi seharusnya dilakukan dengan menggunakan fotokopi ijazah, namun di stand Hatta Rajasa maupun stand pengambilan tanda peserta kongres, saya tidak pernah diminta menunjukkan bukti bahwa saya adalah alumni ITB.
- Di formulir pendaftaran, sudah tercantum dua tandatangan penjamin, yang menyatakan bahwa saya adalah alumni ITB. Namun saya sama sekali tidak mengenal penjamin tersebut, dan saya yakin mereka juga tidak mengenal saya.
Saya tidak tahu apakah kejanggalan ini hanya terjadi di stand Hatta Rajasa saja atau di semua calon. Seandainya mau, bisa saja mahasiswa atau bahkan non orang ITB ikut mencoblos. Oya, peristiwa ini disaksikan oleh rekan Ali Akbar yang kebetulan mencoblos bersama saya.
Sekarang, hasil pemilu sudah ditetapkan dengan kemenangan mutlak di kubu Hatta Rajasa. Mungkin ini bisa jadi pelajaran untuk pemilu-pemilu mendatang. Kepikiran juga, kenapa nggak pake pemilu online?? ITB masak nggak bisa bikin pemilu online??
Oya, kenapa nggak pemilu tiap tahun aja ya?? Banyak makan-makan, banyak training-training gratis…..
Permalink
11.20.07
Posted in technology, free at 4:05 pm by aulia
Berhubung saya sudah lulus, jadi saatnya memindahkan blog saya yang semula ditaruh di server dalam kampus ke hostingan di luar kampus. Pemindahan ini juga dipicu sulitnya blog saya diakses dari luar kampus. Terbukti di situs agregator blog planet-if.amudi.org, blog saya selalu dalam keadaan tidak dapat diakses.
Jadi sekarang blog ini numpang di server hosting milik montirhost yang digawangi teman di ARC. Ternyata migrasi blog berbasis wordpress dari satu server ke server lain tidak sesulit yang dibayangkan.
Pertama, buat backup semua database wordpress kita dari server yang lama. Biasanya semua tabel yang berawalan wp_. Kemudian ubah file wp_config.php sesuai dengan konfigurasi database di server baru. Berhubung nama domain saya tetap, maka tidak ada perubahan yang dilakukan di dump database. Upload dump database ke server yang baru. Pindahkan semua file wordpress dari server lama ke server baru tanpa merubah susunan file. Hasilnya, blog ini bisa jalan seperti ketika dijalankan di server sebelumnya. Semua itu dengan catatan konfigurasi server kompatibel dengan versi wordpress yang dipakai.
Untuk memindahkan alamat blog agar mengacu ke server yang baru, tinggal ubah nameserver di control panel domain kita. Blog aulia-ra.org semua menggunakan nameserver ns1.itb.ac.id dan gtw.arc.itb.ac.id, sekarang menggunakan ns1.montirhost.net dan ns2.montirhost.net.
Dengan beroperasinya aulia-ra.org di server baru, semoga dapat lebih mudah diakses oleh pembaca.
Permalink
« Previous entries ·